Masih berkaitan dengan tulisan iftitah edisi sebelumnya secara ringkas di Himmatun Ayat system manajemen di bagi menjadi 3 divisi besar yaitu divisi Program, divisi Operasional dan divisi Keuangan. Jika lebih detail lagi maka dapat dikatakan divisi program berfikir tentang what and why (apa dan mengapa program itu harus dilaksanakan). Sedangkan divisi operasional dan keuangan berfikir tentang who, when, where dan how (siapa, kapan, dimana dan bagaimana caranya agar program tersebut dapat berjalan). Dari gambaran ini kita melihat secara umum ketika kita merencanakan suatu program juga harus diikuti dengan berfikir bagaimana program tersebut data berjalan.

Untuk menentukan program apa yang sebaiknya harus diberikan kepada anak-anak yatim, sebagai orang muslim kita sudah diberi gambaran dengan jelas dalam al-Quran. Inilah hak-hak anak yatim yang harus menjadi esensi program. Apapun program yang kita lakukan hakikatnya yang utama adalah dalam rangka menunaikan hak-hak anak yatim. Selebihnya merupakan program tambahan sebagai efek atau konsekwensi dari program yang utama. Misalnya hak anak yatim adalah pemenuhan kebutuhan pendidikan, maka keberadaan guru dan prasarana merupakan konsekwensi dari pemenuhan program pendidikan tersebut dan seterusnya.

Pada ayat-ayat yatim dalam al-Quran disebutkan beberapa macam hak  sebagai bukti perhatian khusus Alloh terhadap anak yatim dikarenakan ia masih kecil dan belum mampu mewujudkan kemaslahatan sebagai bekal masa depannya. Karena ini suatu hak, sebagai konsekwensinya ini juga merupakan kewajiban bagi wali yatim dan masyarakat untuk mewujudkannya sesuai kapasitas masing-masing. Diantara hak-hak tersebut  adalah : pertama, hak perlindungan diri dan harta anak yatim;  kedua, hak pengasuhan dan pendidikan anak yatim; ketiga hak nafkah dan pemberdayaan anak yatim. Dengan mengetahui hak-hak anak yatim tersebut diharapkan dapat menjadi rambu-rambu sekaligus inspirasi dalam menentukan rencana program kerja pada lembaga yang menangani anak yatim.

Dalam kesempatan ini kita akan membahas tentang hak perlindungan terhadap anak yatim. Secara umum dapat dibagi menjadi dua hal, pertama perlindungan terhadap diri anak yatim, kedua perlindungan terhadap harta anak yatim. Ayat–ayat yang berkaitan dengan perlindungan diri anak yatim diantaranya terdapat dalam surat al-duha ayat 6 dan 9. “Alam yajidka yatiimaan fa aawaa……fa ammal yatiima falaa taqhar. Artinya: Bukankah dia mendapatimu sebagai anak yatim, lalu dia melindungimu…..Adapun terhadap anak yatim  janganlah kamu berlaku sewenang wenang. Juga terdapat dalam surat al-Fajr ayat 17, “ Kallaa  bal laa  tukrimuunal  yatiim ”Artinya: sekali kali tidak demikian , sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim.

Menurut Wahbah al-Zuhayli bahwa makna fa aawaa mengandung dua pengertian, yaitu: a. Maka Allah melindungi dan mengkhususkannya (Nabi Muhammad) dengan kerasulannya. b. Maka Allah menjadikan Muhammad sebagai tempat berlindung anak-anak yatim setelah ia dijadikan yatim, dan penjamin manusia setelah setelah ia di  jamin; sebagai peringatan atas nikmatnya kepada Muhammad. Mengenai makna falaa taqhar ada beberapa penafsiran, diantaranya: 1. Jangan dihina (pendapat mujahid dan Ibn salam ). 2. Jangan dianiaya (pendapat sufyan). 3. Jangan ditahan hak-haknya yang ada padamu (pendapat al-Farra’). 4. Jadilah kamu ayah penyayang  bagi anak yatim (pendapat Qatadah).

Perhatian dan perlindungan terhadap anak yatim juga ditegaskan Al-Qur’an dengan mencela sikap dan tindakan orang-orang kafir Makkah.  Ketika Allah telah memuliakan mereka dengan harta yang melimpah ruah, namun mereka tidak menunaikan kewajiban yang berkenaan dengan harta itu, yang berupa memuliakan anak yatim dan bahkan mereka mengambil hak milik mereka dan menzaliminya. Sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an, yaitu : Kallaa  bal laa  tukrimuunal  yatiim. Artinya: sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim. Menurut al-Qurthubi, ayat ini merupakan hinaan dan celaan terhadap orang-orang yang berlimpah ruah harta dan mereka mengambil harta warisan anak yatim, memakannya dengan berlebih-lebihan. Pemberian perlindungan dan hak-hak anak yatim merupakan perintah Allah yang wajib diberikan kepada semua anak yatim. Dan perintah inilah, diantara ayatayat-ayat yang diturunkan di Mekkah, agar kekuatan iman orang-orng Islam waktu itu direalisasikan dengan menyayangi dan melindungi sesamanya, khususnya perhatian terhadap anak yatim dan orang miskin.

Setelah perlindungan terhadap diri, selanjutnya adalah hak perlindungan terhadap harta yang mencakup hak atas kepemilikan dan keselamatan harta anak yatim. Ayat-ayat yang berkaitan dengan hal ini dintaranya ; “Walaa taqrobuu maalal yatiimi il-laa billatii hiya ahsanu hat-taa yablugho asyuddah.”  Artinya Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat sampai dia dewasa”. Begitu pentingnya perlindungan harta anak yatim, lafadz ayat tersebut disebutkan dua kali dalam al-Quran yaitu dalam surat al-An’am:152 dan al-Isra’: 34.

Dalam dua ayat tersebut, kata maalal yatiimi  didahului dengan kata wa laa taqrobuu dan dilanjutkan dengan illaa billatii hiya ahsan. Pendapat para ulama mengenai  makna “walaa taqrobuu” diantaranya , yaitu: 1. Menurut Wahbah al-Zuhayly, kata tersebut bermakna bahwa janganlah kamu mengambil harta anak yatim, kecuali ada manfaat baginya, baik dalam pemeliharaannya atau pengembangannya sampai ia dewasa dan mampu memelihara harta tersebut dengan baik. 2. Menurut al-Sya’rawi, ayat tersebut  menerangkan bahwa Allah SWT menegaskan bahwa sesungguhnya anak yatim mempunyai harta. Dan Allah memerintahkan agar jangan mendekati harta anak yatim kecuali untuk mengembangkannya, agar harta tersebut bertambah banyak.

Dari penafsiran tersebut, menjelaskan bahwa bagi wali (pengasuh) anak yatim diperbolehkan untuk mengelola harta milik anak yatim. Namun, pengelolaan harta anak yatim harus dilakukan dengan jalan yang lebih baik, sehingga modal atau harta anak yatim tidak habis, baik untuk dimakan atau diperdagangkan (rugi). Sebab, batas pengelolaan wali atau pengasuh anak yatim terhadap harta tersebut sampai batas usia dewasanya dan adanya kemampuan untuk mengelola harta tersebut dengan baik, sehingga ketika ia menerima harta dari wali atau pengasuhnya, ia menerima sebagaimana ia menerima dari ayahnya. Oleh sebab itu, bagi seorang wali harus menjaga keutuhan dan keselamatan harta anak yatim dengan baik dan memberikan harta tersebut kepada anak yang berhak memilikinya ketika tiba waktu dewasanya.Apabila seorang wali merasa tidak mampu untuk mengelolanya dengan baik, maka lebih baik tidak mendekatinya dan ini untuk menjaga keutuhan dan keselamatan harta tersebut.

Kedua ayat tersebut merupakan peringatan Allah agar para wali memahami dengan benar  tata cara pengelolaan dan perlindungan harta anak yatim. Al-Quran sebagai mu’jizat terbesar Rosululloh sungguh akan selalu relevan menghadapi perkembangan jaman. Mulai jaman kenabian, jaman para sahabat, tabiin jaman sekarang hingga yang akan datang. Bahkan dalam sejarah juga telah ditulis jauh sebelum Rasulullah datang, yaitu ketika Nabi Khidir a.s.memberikan pengajaran  kepada Nabi Musa a.s. sebagaimana tersebut dalam surat Al-Kahfi:82, yaitu: “ Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua anak yatim di kota itu, dan dibawahnya terdapat harta benda simpanan untuk mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada usia dewasa dan mengeluarkan simpananya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu…”

Dalam kehidupan bermasyarakat berbagai kenyataan mengenai harta anak yatim ini akan kita hadapi. Diantara kemungkinannya adalah pertama anak yatim yang ditinggal mati orangtua dengan meninggalkan harta warisan. Kedua, anak yatim ditinggal mati orang tua tanpa meninggalkan harta warisan. Untuk keadaan yang pertama ini harus menjadi perhatian lebih dari berbagai pihak, terutama para pejabat setempat. Mumpung keadaan anak yatim masih kecil dan belum tahu apa-apa terkadang dimanfaatkan oleh keluarga baik dari pihak ayah atau pihak ibu dengan menyerobot warisan anak yatim tersebut. Untuk keadaan yang kedua, anak yatim yang tidak mempunyai harta warisan ketika ditinggal mati orang tuanya tentu tanggung jawab wali tidak seberat kasus pertama. Namun demikian tetap harus hati-hati dalam melindungi harta anak yatim yang menjadi titipan para donator ke lembaga dengan pengaturan yang lebih baik karena dana titipan notabene juga ditujukan untuk kemaslahatan anak yatim. Harus ada pengaturan untuk kepentingan saat ini terkait sandang pangan dan tempat tinggal serta kebutuhan sehari-hari. Ada untuk keperluan pengasuhan dan pendidikan yang sedang berjalan. Juga harus ada untuk masa depan mereka berupa tabungan dan program pemberdayaan. Dengan demikian perlindungan anak yatim yang telah digariskan dalam al-Quran sudah sempurna, perlindungan terhadap jiwa dan diri anak yatim sekaligus perlindungan terhadap hak kepemilikan dan keselamatan harta anak yatim. Tugas berikutnya bagi para pengurus dan wali yatim adalah mengamalkan ketentuan al-Quran tersebut. Sehingga kita akan menjadi pribadi yang pantas dilindungi oleh Alloh di dunia dan akhirat karena telah melindungi anak yatim.