Oleh: Abdillah F Hasan,  Pendidik pada Lembaga Pendidikan Al Falah Surabaya

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. ”

Bergantunglah kepada sesuatu yang layak untuk digantungkan, Dialah Allah Yang Maha Sempurna. Semua kejadian, dari a sampai z, dari yang terkecil hingga yang terbesar, ada dalam genggamanNya. Jika demikian,  mengapa kita enggan bergantung kepadaNya? Kita lebih senang bergantung kepada harta, bergantung kepada atasan di kantor, bergantung pada suara public, bergantung pada kesempurnaan fisik, bahkan bergantung pada bantuan dukun yang dianggap memiliki kekuatan mistik. Apakah kita tidak tahu bahwa apa-apa yang kita gantungkan tersebut sebenarnya juga tergantung kepada Allah?

Nabi Sulaiman as adalah kekasih Allah yang diberi keistimewaan memahami bahasa binatang. Digambarkan oleh Allah dalam Al-Quran,

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut,”Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”  (QS. An-Naml: 18-19)

Suatu ketika Nabi Sulaiman as bertanya kepada seekor semut, “Wahai semut, berapa banyak rezeki yang diberikan Allah kepadamu dalam waktu setahun?”

Semut itu menjawab,“Sebesar biji gandum,” jawabnya.

Kemudian Nabi Sulaiman as memberi semut sebiji gandum lalu memeliharanya. Selang satu tahun, Nabi Sulaiman as membuka tempat untuk menyimpan semut itu dan mendapati semut tersebut hanya memakan sebagian biji gandum saja.

Nabi Sulaiman as pun bertanya, “Mengapa kamu hanya memakan sebagian dan tidak menghabiskannya?”

Si semut pun menjawab, “Dahulu aku pasrah kepada Allah.  Dengan tawakal kepadaNya Dia tidak akan melupakanku. Tapi saat aku pasrah kepadamu, aku tidak yakin engkau ingat aku pada tahun berikutnya. Karena itu, aku sisakan sebagiannya untuk bekal tahun berikutnya.”

Kisah semut di atas mengingatkan kita akan kedudukan manusia yang hanya sebatas ciptaan. Bukan berarti si semut tidak percaya karena Nabi Sulaiman ingkar janji, tapi karena ciptaan tidak layak bergantung pada ciptaan. Sehebat dan sekaya papun Nabi Sulaiman as, tetap hanya ciptaan yang memiliki kelemahan. Meskipun beliau adalah kekasihNya, hamba yang selalu medapat bimbinganNya, tetap manusia biasa yang dihinggapi sifat-sifat manusiawi yang penuh kedhaifan. Jika semut yang tidak memiliki akal tidak mau bertawakkal kepada manusia dan hanya pasrah kepada Allah, mengapa kita–makhluk yang jauh lebih sempurna dari semut–lebih senang bertawakkal kepada sesama ciptaan?

“ Apakah kita tidak tahu bahwa apa-apa yang kita gantungkan selain kepada Allah sebenarnya juga tergantung kepada Allah?” Gambar: http://www.muhammadhafizh.com/
3-hewan-sebagai-perumpamaan-manusia-
dalam-mencari-harta/