Hakekat Diri

Penulis : Agus Triyono Syafi'ie, M.Psi

         Ketika manusia lahir di bumi ini mau tidak mau manusia akan dihadapkan dengan sejuta masalah dan kepentingan dalam hal ini, itu, kata sifulan atau sifulin, semua gambaran dunia membayangi  memenuhi hati dan pikiran manusia, sehingga tidak sedikit diantara mereka kehilangan jati dirinya, tidak jelas lagi apa yang utama dan pertama, tidak jarang justru manusia larut dengan aktifitasnya yang tidak subtansial yang berkaitan sejatinya kepentingan dirinya sebagai seorang mahkluk ciptaan Tuhannya. Memang tidak mudah untuk hidup sebagai manusia, dimana mereka hidup di dunia ini dipengaruhi dua faktor, diantaranya yang pertama faktor internal, yang terdiri akal pikiran, hati, perasaan, nafsu, serta sebagai faktor eksternal yaitu gemerlap warna-warni dunia.

           Dari kedua faktor tersebut manusia akan terjebak didalamnya sehingga menjadi ketidak seimbangan dalam dirinya, semisalnya cenderung condong dunia, nafsu, perasaan, akal pikiran, akibat dari kecenderungan tersebut merupakan suatu hal yang tidak baik, dalam ilmu psikologi ciri dari abnormalitas adalah kecenderungan dalam satu sisi, yang terlalu dominan dengan unsur yang lainnya.Untuk mengantisipasi tersebut maka seharusnya manusia sejak awal mempunyai sikap yang menjadi pegangan hidup dalam mengelolah kedua faktor yang mempengaruhinya, sehingga ternetralisir, tidak membawa pada unsur-unsur yang negatif.

         Apakah sejatinya pegangan hidup manusia sesungguhnya?  Sebagai seorang hamba Allah SWT sebaiknya semua urusannya tidak lepas dari kepentingan atau orentasinya kepada Allah SWT, oleh karena itu gunakan hati, akal pikiran, nafsu,  perasaan dan dunia dalam kepentingan atas keberadaan Allah SWT, (Allah yang saya tuju dan ridhoNya yang saya cari). Itulah hakekatnya urusan manusia hidup di dunia ini, bangunlah getaran-getaran iman dan taqwa dalam setiap gerak tubuh ini, hidupkan dialektika antara kita sebagai hamba dengan Allah SWT dan Rosulnya Nabi Muhammad saw. Tumbuhkan prinsip yang terpenting dalam hidup adalah Allah SWT beserta kekasihnya Nabi Muhammad saw.

             Leburkan diri dalam kehidupan di dunia ini sebagai perjalanan menuju kehidupan kekal di akhirat, apa yang ada di dunia ini adalah ujian untuk meraih kemulyaan hakiki dikehidupan selanjutnya. Persembahkan semua apa yang dimiliki hanya kepada Allah SWT, karena kenyataannya mau tidak mau pada akhirnya semua manusia akan mati dan semua apa yang dimiliki dan banggakan akan ditinggalkannya, tidak ada satupun yang abadi, hanya satu bekal utama adalah amal sholeh. Apabila seseorang mempunyai amal sholeh yang bagus maka mereka akan dapatkan kemuliaan dan kebahagian dunia akhirat.

           Itulah hakekatnya manusia hidup didunia ini, sesungguhnya mereka tidak mempunyai apa-apa selain amal perbuatannya, jangan sekali-sekali berpikir merasa mempunyai hak sepenuhnya atas segala sesuatu yang dimiliki,  tetapi semua itu hanya sebuah titipan dari Allah SWT.  Sucikan hati ini dari unsur-unsur syirik, dimana kita merasa mampu, kuasa dan berkehendak, sementara kenyataannya yang berkuasa, berkehendak, dan mempunyai kekuatan adalah Allah SWT, dan sesungguhnya kita hidup dalam sifat Ar rohman dan Ar rohimnya tidak lebih, walaupun mungkin saat ini kau dalam kuasa sebuah jabatan kekuasaan dengan rekening buku tabunganmu terdapat saldo 100 Milyar.